Walik
Yang kedua, adalah wilayah Walik. Wilayah Walik, merupakan wilayah yang tidak dapat dipisahkan dengan wilayah Wiranaja dan sama-sama wilayah yang tua. Tidak kalah tua dengan wilayah Wiranaja, wilayah Walik pertama kali disebut dalam surat kabar kolonial berangka tahun 1895. Dalam surat kabar itu mewartakan perihal pengangkatan dessahoofden (kepala desa) pada beberapa desa di Residensi Banjoemas, termasuk dalam salah satunya, adalah Desa Walik. Dalam berita itu, disebut kepala desa Walik bernama Najadewangsa (Java-bode: 17-12-1895). Berita tersebut menjadi indikasi bahwa wilayah Walik telah memiliki suatu administrasi kepemimpinan wilayah sendiri yang menjadikannya dapat dikenali dari wilayah yang lain, setidaknya mulai dari berita itu diterbitkan. Sementara itu, wilayah Walik kembali disebut dalam dokumen Kamus Geografi Hindia Belanda yang terbit pada 1917 dan kembali disebut dalam buku yang sama pada terbitan tahun 1921. Dalam buku itu, Walik disebut sebagai bagian dari Residensi Banjoemas (Beknopt aardrijkskundig woordenboek van Nederlandsch-Indië: 1917 dan 1921). Hal yang sedikit berbeda, jika dibandingan dengan eksistensi Wiranaja, esksitensi Walik tidak sampai pada penyebutannya secara teratur dalam dokumen-dokumen administrasi resmi Pemerintah, seperti Regering Alamanak dan Staatblad. Ini menunjukan indikasi bahwa pada abad-abad tersebut wilayah Walik merupakan wilayah yang lebih kecil atau belum mencukupi syarat untuk tergolong ke level onderdistricht.
Disebabkan oleh wilayah Walik yang tergolong ke dalam wilayah desa yang lebih kecil dibandingkan dengan wilayah onderdistricht, maka penyebutan dan pembahasan Wilayah Walik pada surat-surat kabar masa kolonial Belanda tidak se-sering dan se-ramai pembahasan Wiranaja, khususnya pada 1920-an, hanya sedikit yang membahas Walik. Meskipun demikian, pembahasan seputar Wilayah Walik meningkat pada dekade 1930-an. Pada dekade tersebut, Walik sering disebut dalam pembahasan seputar potensi alam yang dimiliki wilayah itu. Wilayah Walik yang tidak berbeda dengan Wiranaja, berada di wilayah kaki Gunung Slamet, menjadikannya kaya akan potensi alam berupa mata air yang mengalir jernih dari pegunungan. Mata-mata air ini, kemudian ada yang dijadikan objek wisata oleh orang-orang Belanda sebagai sarana rekreasi, berupa kolam renang atau pemandian. Berita berangka tahun terbit 1931, menyebutkan bahwa pada akhir Januari 1931 telah didirikan Resor Kolam Renang Walik oleh Dewan Asosiasi Renang di Purbalingga. Kolam renang itu akan mendapatkan sumber air-nya dari sumber mata air yang ada di Walik dengan ukuran kolam 40 m x 20 m dengan kedalaman terdalamnya sedalam 3 m (de Locomotief: 02-01-1931). Selain pendirian kolam renang, Walik juga menjadi cikal bakal dari diresmikannya Asosiasi Renang Walik (Zwemvereeniging Walik) oleh pemerintah yang mulai diakui sebagai badan hukum pada 1934 (de Indische courant: 03-11-1934).

Gambar 10: Potongan Surat Kabar yang Memberitakan Seputar Pengangkatan Kepala Desa di Walik
Sumber: Java-bode terbitan 17-12-1895.

Gambar 11: Potongan Surat Kabar yang Memberitakan Seputar Keberadaan Perkumpulan Renang dan Gambaran Kolam Renang di Walik
Sumber: de Locomotief, terbitan 02-01-1931
Asosiasi Renang Walik ini kemudian menginspirasi untuk didirikannya asosiasi renang di wilayah lain. Hal ini terlihat pada tahun yang sama, 1934, secara resmi Asosiasi Renang Padang di Padang, juga diakui sebagai badan hukum oleh pemerintah kolonial (de Locomotief: 05-11-1934). Tidak saja sebagai wilayah yang kaya akan sumber mata air, Walik kemudian dikenal sebagai wilayah yang sering disebut ketika membahas seputar aktivitas renang-nya, sejak asosiasi renang Walik beridri pada 1934. Pada 30 April 1935, diadakan sebuah kompetisi atau perlombaan renang di Walik. Kompetisi ini disponsori oleh beberapa pihak besar di Purbalingga dan Banyumas, seperti percetakan De Boer dan Faroka, Perusahaan Haemsen dan Verwey, serta oleh Mr. Hezemans. Nampaknya kompetisi ini semuanya diikuti oleh orang-orang Belanda dengan ketua asosiasi, Mr. G. J. Hartog (de Locomotoief: 02-05-1935). Kompetisi renang ini kemudian diadakan rutin di kolam renang Walik, khususnya pada momen-momen penting, seperti pada ulang tahun Ratu Belanda pada 30 April 1936. Pada momen itu, diadakan kembali kompetisi renang di kolam renang Walik untuk kalangan pria, wanita, dan anak-anak (de Koerir: 11-04-1936). Walik dan objek wisata sumber mata air-nya tidak hanya dinikmati oleh orang-orang Eropa, tetapi bagi hampir semua kalangan masyarakat pada waktu itu dapat menikmatinya. Ini terlihat ketika terdadat rombongan karyawan pabrik gula Kali Bagor yang melakukan rekreasi di Kolam renang Walik. (de Locomotief: 30-05-1938). Dengan demikian, Wilayah Wiranaja telah memiliki perjalanan sejarah-nya sendiri yang dibuktikan dengan berbagai sumber. Dengan demikian, Wilayah Walik telah memiliki perjalanan sejarah-nya sendiri yang dibuktikan dengan berbagai sumber.
dari Koetasari ke Kutasari
Koetasari atau Kutasari dalam ejaan masa kini, merupakan nama atau sebutan untuk menyebut wilayah yang dahulunya merupakan wilayah Wiranaja dan Walik. Kutasari pada masa kini dapat merujuk pada dua wilayah administratif, berupa Kecamatan Kutasari dan Desa Kutasari sebagai ibu kota Kecamatan Kutasari. Meski nama Kutasari baru muncul pada periode pasca-Wiranaja dan Walik, tetapi Kutasari kemudian menjadi nama yang permanen bagi wilayah ini hingga kini. Penyebutan nama Kutasari dengan angka tahun tertua pada dokumen resmi pemerintahan kolonial Belanda, dapat ditemukan pada Regeering Almanak dan Staatblad tahun 1928. Di dalamnya, Koetasari atau Kutasari disebut sebagai salah satu wilayah onder-districht Poerbolinggo dalam Afdeeling Poerbolinggo dan dalam Residensi Banjoemas, bersama dengan empat wilayah lain, yaitu Poerbolinggo, Kalimanah, Kemangkon, dan Kaligondang (Regeering Almanak: 1928 dan Staatblad van Nederlansch-Indie: 1928.). Dalam beberapa tahun setelah 1928, Kutasari secara teratur terus disebut dalam kedua dokumen pemerintahan tersebut mulai dari 1929, 1930, 1933, 1934, 1935, 1937, 1938, hingga 1939.

Gambar 12: Potongan Keterangan dalam Dokumen Staatblad yang Menyebut Koetasari
Sumber: Staatsblad van Nederlandsch-Indië voor 1928.

Gambar 13: Potongan Keterangan dalam Dokumen Staatblad yang Menyebut Koetasari
Sumber: Staatsblad van Nederlandsch-Indië voor 1935.
Hampir dapat dipastikan, kemunculan nama Kutasari ini disebabkan adanya reorganisasi wilayah administratif pemerintah kolonial Belanda. Ini dapat dilihat, bahwa nama Wiranaja dan Walik seakan menghilang (meski tidak sepenuhnya menghilang) sejak kemunculan nama Kutasari untuk menggantikan keduanya. Meski demikian, bukan berarti kedua nama yang sebelumnya telah lama eksis menghilang secara permanen. Dalam beberapa berita semasa kolonial, keduanya masih disebut dan dibahas, tetapi dalam konteks dan lingkup yang lebih kecil, seperti desa atau dusun. Kutasari sendiri memiliki potensi yang tidak berbeda dengan Wiranaja-Walik, ini seperti yang terlihat pada pemberitaan hasil panen di Desa Kutasari dan Walik pada 1938, yang memberitakan adanya komoditas nanas sebagai hasil panen di wilayah tersebut, di samping hasil panen komoditas pete dan jengkol yang marak di jumpai di sekitar Gunung Slamet (de Locomotief: 29-01-1938).
Indikasi bahwa nama Kutasari menggantikan dan menyatukan wilayah Wiranaja dan Walik, dapat terlihat dalam berita yang membahas seputar permasalahan hak dan penggunaan gelar raden oleh pejabat dewan daerah. Di dalamnya disebutkan satu contoh penggunaan gelar raden yang tepat, yaitu yang melekat pada seorang Raden Prawiraredja, yang menjabat sebagai seorang penatus di Desa Kutasari (de Locomotief, 05-03-1936). Hal ini menunjukkan bahwa Kutasari telah menjadi wilayah resmi yang memiliki jabatan seorang penatus (dan mungkin juga terdpat jabatan penewu setelahnya). Meski demikian, hingga tulisan ini dimuat, belum ada titik pasti atau momen yang menentukan peralihan dari Wiranaja-Walik ke Kutasari dan alasan yang melatarbelakanginya, baik secara pergantian nama, maupun administratif pemerintahan. Namun, yang jelas pada dekade 1930-an, Kutasari telah kuat melekat sebagai wilayah administrasti resmi dalam Residensi Banjoemas dan Afdeeling Poerbalingga.

Gambar 13: Potongan Surat Kabar yang Memberitakan Seputar Aturan Penggunaan Gelar Raden
Sumber: de Locomotief terbitan 05-03-1936
Penamaan Kutasari secara toponimi kebahasaan, berasal dari kata kuta dan sari. Kata kuta, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berarti tempat berlindung atau kubu. Sementara itu, dalam bahasa Jawa, kata kuta dapat diartikan kependekan dari kata makuta atau yang berarti mahkota. Sedangkan kata sari, dalam bausastra bahasa Jawa, berarti bunga atau sesuatu yang indah. Dengan demikian, Kutasari setidaknya, dapat diartikan sebagai tempat tinggal atau tempat hidup yang indah, seindah mahkota.
Dalam catatan sejarah, wilayah Hindia Blanda, khususnya Jawa pernah beberapa kali mengalami serangan wabah penyakit. Salah satu wabah mematikan tersebut adalah wabah pest. Pest menyebar ke penjuru Jawa secara sporadis, meski pemerintah telah menghimbau dan memerintahkan masyarakat dan jajarannya terkait penanggulangan wabah tersebut. Tercatat, pada tanggal 6 bulan 11 tahun 1936, wabah pest pertama kali menjangkiti wilayah Kutasari, setelah sebelumnya beberapa bulan lebih awal menjangkiti wilayah Mrebet (de Locomotief: 23-01-1937). Wabah ini, di wilayah Kutasari menjangkiti tidak terlalu lama. Pada sekitar 1938, tercatat bahwa wabah pest di dua wilayah onder-districht dalam Poerbalingga mengalami penurunan penjangkitan wabah pest, yaitu di wilayah Koetasari dan Tjilongok (Mededeelingen van den Dienst der Volksgezondheid in Nederlandsch-Indië: 1939).
Nama Kutasari di wilayah ini kemudian semakin “abadi” pasca-Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Ini dapat dlihat dengan tetap berdiri dan beroperasinya fungsi-fungsi sistem pemeritahan di Kutasari pada masa kini yang termasuk dalam salah satu kecamatan di Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah. Dengan demikain, perjalanan sejarah menuju Kutasari telah dimulai dari esksistensi wilayah Wiranaja dan Walik yang telah pada abad ke-19 dan 20, hingga kemudian muncul nama Koetasari yang tetap bertahan hingga kini tanpa melupakan Wiranaja dan Walik yang tetap abadi dalam ingatan kolektif masyarakat.
Daftar pustaka; Part 1 – 3
Wettelijke bepalingen voor de opiumregie: 1915
Staatblad van Nederlansch-Indie: 1928
Regeering Almanak: 1928
Regeering Almanak: 1874
Onderzoek naar de oorzaken van de mindere welvaart der inlandsche bevolking op Java en Madoera: 1906-1908
Mededeelingen van den Dienst der Volksgezondheid in Nederlandsch-Indië: 1939
Mededeelingen van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst in Nederlandsch-Indië: 1923
Mededeelingen van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst in Nederlandsch-Indië: 1924
Mededeelingen van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst in Nederlandsch-Indië: 1925
Mededeelingen van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst in Nederlandsch-Indië: 1926
Javaanse volksvertoningen: 1938
Javaansche architectuur: 1923-1924
Eindresumé van het bij besluit van den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indië: 1902-1903
De revue der sporten: 1919
De Indische mercuur; orgaan gewijd aan den uitvoerhandel: 1910
Beknopt aardrijkskundig woordenboek van Nederlandsch-Indië: 1917 dan 1921
Java-bode: 17-12-1895
De Preanger-bode: 09-09-1915
Uitkomsten der in de maand November 1920 gehouden volkstelling: 1920
Bataviaasch Nieuwsblad: 03-11-1924
Bataviaasch nieuwsblad: 14-01-1927
de Locomotief: 01-12-1927
de Locomotief: 02-01-1931
de Indische courant: 03-11-1934
de Locomotief: 05-11-1934
de Locomotoief: 02-05-1935
de Locomotief, 05-03-1936
de Koerir: 11-04-1936
de Locomotief: 23-01-1937
de Locomotief: 29-01-1938
de Locomotief: 30-05-1938