Oleh: Ahmad Paramasatya – KKN-PPM UGM 2023
Wiranaja
Yang pertama, adalah wilayah Wiranaja atau Wiranaya dalam ejaan masa kini. Penyebutan nama wilayah Wiranaja paling tua dapat ditemukan dalam Regeering Almanak (almanak tahunan pemerintah) Pemerintah Kolonial terbitan 1874. Dalam pembahasannya, Wiranaja disebut sebagai salah satu wilayah onderdistrict dalam Residensi Banjoemas, yang dipimpin oleh wedana pada tingkat pertama dan asisten wedana II pada tingkat di bawahnya, bersamaan dengan wilayah Poerbalingga, Kalimanah-koelon, dan Madja-asem (Regeering Almanak: 1874). Wiranaja sebagai sebuah wilayah onderdistricht, cukup teratur disebut dalam Regeering Almanak sejak dekade 1870-an hingga 1920-an, menjelang 1930. Secara geografis, wilayah Wiranaja terletak pada kaki Gunung Slamet di Jawa Tengah. Ini menjadikannya wilayah yang subur untuk penanaman komoditas pertanian yang penting dan dasar, seperti jagung, singkong, dan sedikit tembakau ( Onderzoek naar de oorzaken van de mindere welvaart der inlandsche bevolking op Java en Madoera: 1906-1908). Selain komoditas itu, terdapat pula komoditas lain, berupa tebu sebagai bahan baku produksi pabrik gula terdekat (De Indische mercuur; orgaan gewijd aan den uitvoerhandel: 1910).
Selain menjadikan tanah di Wiranaja subur, letak geografis yang berada di kaki Gunung Slamet juga menjadikannya dekat dengan kehidupan satwa liar yang pada waktu itu masih jamak dijumpai berkeliaran dan hidup di hutan, di sekitar Wiranaja. Ini dibuktikan dengan beberapa surat kabar yang memberitakan bahwa telah terlihat kemunculan satwa liar di wilayah Wiranaja. Berita tertua, berangka tahun 1919, menyebutkan masih sering terlihatnya hewan-hewan buas seperti macan kumbang, ular, dan sedikit badak Jawa (De revue der sporten: 1919). Sementara itu, berita dari tahun 1927 memberitakan bahwa telah terlihat seekor harimau turun dari gunung dan memangsa beberapa ternak warga (Bataviaasch nieuwsblad: 14-01-1927).

Gambar 5: Potongan Surat Kabar yang Memberitakan Kemunculan Macan di Wiranaja
Sumber: Bataviaasch nieuwsblad terbitan 14-01-1927.
Dalam sejarahnya Wiranaja tidak saja dikenal sebagai wilayah yang subur tanahnya dan menghasilkan panen yang baik, tetapi juga terdapat pemberitaan pada aspek sosial-kemasyarakatan-nya. Pemerintah Kolonial Belanda dalam pengelolaan tanah jajahan-nya, juga turut mengatur perihal adanya kuli atau tenaga kerja untuk keperluan kerja wajib kepada pemerintah. Dalam hal turan seputar kuli atau tenaga kerja itu, wilayah Wiranaja dan wilayah onderdistricht lain dalam Afdeeling Banjoemas, menjadi wilayah percontohan bagi pemberlakukan aturan penggantian dan perihal waris tanah komunal bagi janda mati mendiang kuli, dengan catatan harus menyediakan pengganti kuli tersebut (Eindresumé van het bij besluit van den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indië: 1902-1903).
Selain aturan seputar tenaga kerja, pada abad ke-20, opium menjadi sebuah tren komoditas yang populer di tengah-tengah masyarakat, baik bumiputra, maupun orang-orang Eropa. Opium, nyatanya menjadi sebuah komoditas yang menguntungkan berbagai pihak di satu sisi dan jika tidak diawasi akan menimbulkan kerugian bagi pemerintah. Maka, pemerintah membuat sebuah ordonansi atau aturan seputar peredaran opium. Dalam aturan itu, nama wilayah Wiranaja disebut sebagai bagian dari wilayah onder-districht Poerbalinga, bersamaan dengan wilayah Tjilacap, Bawang, dan Bandjarnegara, sebagai sebaran wilayah yang mendapatkan izin untuk mengangkut dan melakukan pengiriman opium kepada pihak-pihak yang telah mendapatkan izin dan rekomendasi dari pemerintah kolonial (Wettelijke bepalingen voor de opiumregie: 1915). Pada tahun yang sama pula, terdapat berita perihal perizinan penggunaan opium untuk konsumsi dengan izin khusus dari residen di beberapa wilayah, yang salah satu wilayahnya mencakup Wiranaja (De Preanger-bode: 09-09-1915).

Gambar 6: Penyebutan Wiranaja dalam Almanak Tahunan Pemerintah Kolonial Belanda
Sumber: Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1874

Gambar 7: Penyebutan Wiranaja dalam Almanak Tahunan Pemerintah Kolonial Belanda
Sumber: Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1925.
Populasi di wilayah Wiranaja, hingga sesnsus penduduk oleh pemerintah kolonial pada 1922, menyatakan bahwa meski telah terjadi penetrasi orang-orang Eropa, masih sedikit poplasi orang Eropa yang terbentuk. Justru, Wiranaja terlihat telah cukup ramai dengan populasi bumiputra-nya, sebanyak total 40.516, dengan rincian populasi laki-laki sebanyak 19.881 orang dan perempuan sebanyak 20.635. Sementara itu, jumlah populasi orang Eropa hanya terdiri atas total 4 orang, dengan rincian 2 laki-laki dan 2 perempuan di Wiranaja (Uitkomsten der in de maand November 1920 gehouden volkstelling: 1920).
Wiranaja juga disebut sebagai salah satu wilayah di mana masih terdapat kediaman atau rumah tinggal yang berarsitektur Jawa. Perkembangan arsitektur Jawa, khususnya Jawa kuna, telah mengalamai perubahan dan pergeseran. Menurut, salah satu pengamat arsitektur Jawa, MacLaine Pont, arsitektur Jawa yang berkembang mulai menunjukkan keterbukaan bangunan. Keterbukaan bangunan ini dapat dijumpai pada rumah-rumah Jawa yang berada di kaki gunung atau pegunungan. Meski demikian pada rumah-rumah yang ada itu, terdapat kebiasaan untuk menambahkan tirai atau kerat penutup yang terbuat dari anyaman bambu. Wiranaja, dalam hal ini disebut sebagai wilayah di Poerbalingga yang menunjukkan gejala gaya arsitektur Jawa yang berbeda dari lazimnya, berupa rumah yang memiliki 3 sisi terbuka dan hanya sepenuhnya dapat dikunci oleh penutup (Javaansche architectuur: 1923-1924).
Selain dalam hal arsitektur rumah, di wilayah Wiranaja juga pernah dibahas seputar lestarinya kesenian Jawa, berupa kesenian topeng. Kesenian ini biasanya merupakan kesenian tari Topeng Panji, yang menurut informasi pada tahun 1930-an masih dipertunjukkan di Wiranaja dan Kalimanah. Biasanya pertunjukkan topeng ini digelar dalam rangka menyambut hajat-hajat besar seperti, khitanan, pernikahan, dan kaul (Javaanse volksvertoningen: 1938).
Wilayah Wiranaja, kemudian lebih terlihat ramai atau terlihat “lebih kota” jika dibandingkan dengan Walik. Ini dibuktikan dengan berita pengangkatan dewan pengurus masjid, naib, atau kepala takmir Masjid Wiranaja, yang bernama Haji Mohammad Nasrawi pada 1924 (Bataviaasch Nieuwsblad: 03-11-1924). Keberadaan berita ini menjadi indikasi bahwa wilayah Wiranaja telah memiliki masjid-nya sendiri, yang secara tidak langsung menandakan bahwa wilayah itu merupakan wilayah yang lebih tertata, lebih ramai, dan lebih besar susunan pemerintahan-nya. Sementara itu, menurut keterangan yang didapatkan, tidak jauh dari wilayah Wiranaja, juga terdapat wilayah yang ber-toponimi, Kauman. Wilayah Kauman menjadi indikasi dan legitimasi bahwa tidak jauh dari wilayah itu pasti telah terbentuk pemerintahan yang lebih ajeg dan besar. Indikasi bahwa Wiranaja terkesan “lebih kota”, juga dapat ditemukan dengan berita kucuran anggran pembangunan pasar di Wiranaja yang dilakukan oleh Raad te Banjoemas (Dewan Pemerintahan) pada 1927, bersamaan dengan beberapa wilayah lain seperti Mandiradja, Tobong, dan Mantrianom, sebesar f 9.000 (de Locomotief: 01-12-1927).

Gambar 8: Potongan Surat Kabar yang Memberitakan Seputar Anggaran Pembangunan Pasar, termasuk di Wiranaja.
Sumber: de Locomotief terbitan 01-12-1927

Gambar 9: Potongan Surat Kabar yang Memberitakan Seputar Penunjukkan Naib Masjid Wiranaja
Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad terbitan 03-11-1924.
Wiranaja sebagai wilayah yang cukup padat penduduk, tidak saja masuk dalam usaha sensus penduduk oleh pemerintah kolonial, tetapi juga perihal sensus kematian penduduk. Kematian penduduk per 1000 orang di Wiranaja pada 1921 menyentuh angka 30 orang. Ini menempatkan Wiranaja pada posisi kedua, setelah Djalegeng dengan angka 29 dalam wilaayh se-onderdistricht Poerbalingga (Mededeelingen van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst in Nederlandsch-Indië: 1923). Pada 1924, angka ini menurun menjadi 21 orang per 1000 orang (Mededeelingen van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst in Nederlandsch-Indië: 1924). Pada 1925, angka ini kembali mengalami penurunan menjadi 19 orang per 1000 orang (Mededeelingen van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst in Nederlandsch-Indië: 1925). Pada 1926, angka ini kembali mengalami penurunan menjadi 17 orang per 1000 orang (Mededeelingen van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst in Nederlandsch-Indië: 1926). Selain itu, bersamaan dengan sesnsus kematian penduduk itu, Wiranaja juga disebut dalam wilayah-wilayah yang menjadi penyebaran vaksin oleh pemerintah pada 1920-an. Dengan demikian, Wilayah Wiranaja telah memiliki perjalanan sejarah-nya sendiri yang dibuktikan dengan berbagai sumber.
B E R S A M B U N G . . . . . . . . . .